Dberita.ID | Langkat — Hasil tangkapan udang kecepai yang diperoleh nelayan tradisional di Desa Kwala Gebang, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, disebut semakin berkurang.
Kondisi tersebut dikeluhkan sejumlah nelayan yang masih mengandalkan alat tangkap tradisional berupa ambai untuk mencari udang kecepai di kawasan pesisir.
Informasi dihimpun awak media dari nelayan Kwala Gebang, Minggu (4/10/2026), menyebutkan, berkurangnya hasil tangkapan diduga berkaitan dengan perubahan kondisi kawasan pesisir, termasuk adanya alih fungsi kawasan yang sebelumnya merupakan habitat mangrove menjadi area perkebunan kelapa sawit.
Selain itu, nelayan juga menyebut adanya penutupan atau perubahan aliran anak paluh dan anak sungai yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem perairan pesisir. Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi hasil tangkapan nelayan lainnya, seperti pencari kepiting dengan bubu, nelayan penjaring ikan, serta pencari berbagai jenis hasil perairan lainnya.
“Sekarang hasil tangkapan udang kecepai semakin berkurang. Dulu lebih mudah mendapatkannya, tetapi sekarang harus mencari lebih jauh,” ungkap Angah, nelayan Kwala Gebang kemarin.
# Udang Kecepai Jadi Sumber Ekonomi Masyarakat Pesisir
Udang kecepai merupakan salah satu hasil perairan yang cukup dikenal dan dimanfaatkan masyarakat pesisir. Selain dijual dalam kondisi segar, hasil tangkapan tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk pangan, seperti udang kecepai kering, abon udang, sambal udang, hingga bahan campuran bumbu masakan dan belacan.
Bagi nelayan tradisional, hasil tangkapan tersebut bukan sekadar komoditas laut, tetapi juga menjadi salah satu sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Penggunaan ambai menjadi salah satu cara tradisional yang dilakukan nelayan setempat dengan memanfaatkan kondisi perairan pesisir. Hasil tangkapan selanjutnya dapat dijual langsung atau diolah kembali sehingga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Potensi tersebut sebenarnya masih dapat dikembangkan menjadi produk unggulan masyarakat pesisir Kwala Gebang melalui pengolahan, pengeringan, pengemasan, hingga pemasaran yang lebih baik.
Pengembangan usaha pengolahan hasil tangkapan nelayan juga berpotensi membuka ruang bagi pelaku UMKM sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil laut masyarakat.
# Nelayan Soroti Perubahan Kawasan Pesisir
Namun, potensi tersebut kini menghadapi tantangan. Sejumlah nelayan mengeluhkan semakin berkurangnya hasil tangkapan udang dan jenis ikan lainnya yang mereka kaitkan dengan perubahan kawasan pesisir, termasuk berkurangnya kawasan mangrove.
Nelayan menyebut, di sejumlah lokasi terdapat aktivitas pembukaan lahan dengan menggunakan alat berat seperti excavator. Selain itu, terdapat pula pembangunan tanggul atau pematang yang menurut nelayan dapat membatasi masuknya air pasang ke kawasan tertentu.
Menurut mereka, perubahan pola aliran air tersebut dikhawatirkan ikut memengaruhi ekosistem yang selama ini menjadi tempat berkembang biaknya berbagai biota perairan, termasuk udang dan ikan.
“Kalau kawasan mangrove mangkin berkurang dan aliran air pasang tertutup, kami khawatir tempat berkembangnya udang dan ikan juga ikut berkurang. Dampaknya tentu dirasakan nelayan,” ujar sumber nelayan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena keberadaan kawasan mangrove dan jaringan perairan pesisir memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian dari hasil perairan.
Para nelayan berharap pemerintah dan instansi terkait dapat melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kawasan pesisir Kwala Gebang, termasuk perubahan fungsi lahan, keberadaan mangrove, aliran anak paluh, serta aktivitas pembangunan tanggul atau pematang yang berpotensi memengaruhi keluar-masuknya air pasang.
Mereka juga berharap adanya kajian dan pengawasan yang melibatkan masyarakat nelayan agar pengelolaan kawasan pesisir tetap mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan sekaligus keberlangsungan mata pencaharian masyarakat.
Editor: Reza Fahlevi






