Festival Musik Melayu dan Pentas Tradisi Melayu di Tanjung Pura, Mengapa Tak Pernah Digelar?

Penulis · 4 menit baca · 512 dibaca

Dberita.ID | Langkat — Tanjung Pura dikenal sebagai salah satu kawasan bersejarah di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Daerah ini memiliki jejak panjang perjalanan Kesultanan Langkat yang meninggalkan warisan sejarah, adat istiadat, seni, dan kebudayaan Melayu.

Namun, di tengah kekayaan sejarah tersebut, muncul pertanyaan yang patut menjadi perhatian bersama: mengapa festival musik Melayu dan pentas tradisi Melayu belum menjadi agenda budaya yang rutin digelar di Tanjung Pura?

Sebagai daerah yang memiliki hubungan erat dengan sejarah Kesultanan Langkat, Tanjung Pura dinilai layak menjadi pusat kegiatan pelestarian dan pengembangan kebudayaan Melayu. Bahkan, festival budaya tersebut seharusnya dapat dilaksanakan setidaknya di tingkat kecamatan apabila belum memungkinkan diselenggarakan dalam skala Kabupaten Langkat.

Pagelaran seperti festival musik Melayu, tari tradisional, pembacaan syair dan pantun, pertunjukan teater sejarah, hingga pameran benda-benda bersejarah dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali identitas Melayu kepada generasi muda.

Selain menjaga warisan leluhur, kegiatan tersebut juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat, khususnya pelaku UMKM, seniman, pengrajin, dan pedagang lokal.

#Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Adat Soroti Pentingnya Festival Budaya

Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Adat (PMA) Tengku Mahmud Abdul Jalil Rahmatsyah, Sultan Langkat III, Tengku Onny Rafizah Hafas, pada Rabu (21/10/2026) di Tanjung Pura menilai pemerintah seharusnya memberikan perhatian lebih terhadap penyelenggaraan berbagai agenda kebudayaan Melayu di Tanjung Pura.

Menurutnya, Tanjung Pura memiliki sejarah panjang, terlebih karena kawasan ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Langkat.

Kekayaan sejarah tersebut semestinya tidak hanya dikenang melalui cerita dan peninggalan masa lalu, tetapi juga dihidupkan melalui kegiatan kebudayaan yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Festival musik Melayu dan pentas tradisi, misalnya, dapat menjadi ruang bagi para seniman lokal untuk menampilkan kemampuan mereka sekaligus memperkenalkan kekayaan seni Melayu kepada masyarakat luas.

Kegiatan tersebut juga dapat menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi muda agar mereka lebih mengenal akar budaya dan identitas daerahnya sendiri.

#Jangan Sampai Warisan Budaya Hanya Menjadi Kenangan

Pelestarian kebudayaan tidak cukup hanya dengan menjaga bangunan bersejarah atau mengenang kejayaan kerajaan pada masa lalu. Diperlukan langkah nyata agar tradisi, kesenian, bahasa, musik, dan nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Tanpa kegiatan yang berkelanjutan, ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mempelajari kesenian tradisional dikhawatirkan semakin terbatas.

Karena itu, pemerintah daerah bersama pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan kelurahan, tokoh adat, budayawan, sejarawan, serta komunitas seni perlu duduk bersama merancang agenda kebudayaan yang terarah.

Festival tersebut tidak harus langsung dilaksanakan dengan anggaran besar. Kegiatan sederhana yang melibatkan sanggar seni, kelompok musik Melayu, pelajar, komunitas budaya, dan pelaku UMKM dapat menjadi langkah awal.

Jika dilaksanakan secara konsisten, kegiatan itu berpeluang berkembang menjadi agenda tahunan yang dinantikan masyarakat.

#Peluang Mengembangkan Wisata Sejarah dan Ekonomi Lokal

Penyelenggaraan festival budaya Melayu juga dapat menjadi peluang untuk mengembangkan wisata sejarah di Tanjung Pura.

Pengunjung tidak hanya disuguhi pertunjukan seni, tetapi juga dapat diperkenalkan dengan sejarah Kesultanan Langkat, bangunan bersejarah, tradisi masyarakat, kuliner khas Melayu, serta produk UMKM setempat.

Dengan konsep tersebut, festival budaya tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Pemerintah juga dapat menjajaki kolaborasi dengan komunitas budaya, lembaga pendidikan, pelaku usaha, dan pihak swasta untuk mendukung pembiayaan serta penyelenggaraan kegiatan.

Tentunya, perencanaan dan pelaksanaan kegiatan perlu dilakukan secara transparan, terukur, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

#Mengapa Belum Menjadi Agenda Rutin?

Pertanyaan mengenai belum rutinnya penyelenggaraan festival musik dan pentas tradisi Melayu di Tanjung Pura perlu dijawab melalui evaluasi dan komunikasi terbuka dengan pemerintah daerah serta para pemangku kepentingan kebudayaan.

Apakah persoalannya terletak pada keterbatasan anggaran, belum adanya program yang berkelanjutan, kurangnya koordinasi, atau belum optimalnya dukungan terhadap komunitas seni dan budaya?

Hal tersebut perlu diklarifikasi agar masyarakat memperoleh gambaran yang jelas mengenai perhatian dan kebijakan pemerintah dalam pelestarian kebudayaan Melayu di Langkat.

Yang pasti, kekayaan sejarah Tanjung Pura merupakan potensi yang dapat dikembangkan. Potensi itu membutuhkan perencanaan, dukungan, dan komitmen agar tidak berhenti sebagai kebanggaan masa lalu.

Kini, masyarakat patut berharap agar Tanjung Pura tidak hanya dikenal karena sejarah Kesultanan Langkat, tetapi juga menjadi tempat di mana musik, seni, dan tradisi Melayu terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Jangan sampai sejarah besar Kesultanan Langkat hanya menjadi cerita masa lalu, sementara ruang untuk menghidupkan kembali kebudayaan Melayu justru terabaikan.

Penulis: Tim Redaksi
Editor: Reza Fahlevi

2,159 artikel