Dberita.ID | Langkat — Banjir kembali melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Ratusan kepala keluarga (KK) di Desa Tebing Tanjung Selamat dan puluhan KK di Desa Tanjung Putus terdampak genangan banjir.
Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan belum tersambungnya peninggian tanggul di kawasan Paya Bunder, Desa Sukaramai, Kecamatan Padang Tualang, serta jebolnya tanggul di Blok 60, Desa Tanjung Putus. Warga menilai penanganan terhadap kerusakan tanggul tersebut hingga kini masih berjalan lamban.
Informasi yang dihimpun awak media menyebutkan, sebelumnya terdapat bagian tanggul sepanjang sekitar 5 meter yang belum tersambung. Kondisi tersebut kemudian diperparah meningkatnya debit air dari hulu serta tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir.
Titik tanggul yang sebelumnya menjadi salah satu lokasi rawan luapan Sungai Sei Batang kini mengalami kerusakan yang semakin melebar. Bagian yang semula sekitar 5 meter diperkirakan telah melebar menjadi sekitar 10 hingga 15 meter. Selain itu, tanggul di Blok 60, Desa Tanjung Putus, juga dilaporkan jebol.
Akibat kerusakan tersebut, air meluap dan menggenangi permukiman warga, termasuk Dusun Sumur Bor, Desa Tebing Tanjung Selamat, serta merembet ke wilayah Desa Tanjung Putus.
Warga menyebut banjir dengan kondisi serupa bukan kali pertama terjadi. Mereka mengaku sudah tiga kali mengalami banjir akibat luapan air yang masuk ke kawasan permukiman.
“Banjir seperti ini sudah tiga kali kami alami. Kami berharap pemerintah segera menangani tanggul yang rusak agar kejadian seperti ini tidak terus berulang,” ujar Wahidin dan Irawan, warga Kecamatan Padang Tualang.
Warga meminta Pemerintah Kabupaten Langkat bersama Muspika Kecamatan Padang Tualang lebih tanggap dalam menangani kerusakan tanggul tersebut. Mereka juga berharap perusahaan perkebunan yang berada di sekitar wilayah terdampak turut memperhatikan kondisi lingkungan dan saluran air di kawasan tersebut.
# Tanggul Rusak Bukan Persoalan Baru
Kerusakan tanggul di Kecamatan Padang Tualang bukan merupakan persoalan baru. Pada Desember 2025, dilaporkan terdapat 11 titik tanggul jebol yang tersebar di sejumlah desa dan kelurahan di Kecamatan Padang Tualang.
Saat itu, pemerintah kecamatan telah mengajukan permohonan perbaikan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Pengajuan tersebut dilakukan karena pembangunan dan rehabilitasi tanggul di sejumlah lokasi disebut berkaitan dengan kewenangan pemerintah provinsi.
Persoalan serupa kembali muncul saat banjir melanda sejumlah wilayah Kabupaten Langkat pada September 2026. Berdasarkan laporan penanganan banjir, tingginya curah hujan menyebabkan debit sungai meningkat dan sejumlah tanggul pengaman sungai mengalami kerusakan.
Di Kecamatan Padang Tualang, sejumlah dusun tercatat terdampak cukup signifikan. Dusun 12 Benteng Rejo dilaporkan sekitar 600 KK terdampak dengan ketinggian air 30–120 sentimeter. Sementara Dusun 11 Tegal Rejo sekitar 250 KK terdampak dengan ketinggian air 25–95 sentimeter. Adapun Dusun Sumur Bor dilaporkan sekitar 260 KK terdampak dengan ketinggian air 20–30 sentimeter.
# 390 KK Masih Terdampak
Hingga Selasa (29/9/2026), banjir masih menggenangi sejumlah permukiman warga.
Di Dusun Sumur Bor, Desa Tebing Tanjung Selamat, sekitar 350 KK dilaporkan terdampak genangan banjir. Sementara di Dusun Sidowarjo, Desa Tanjung Putus, sekitar 40 KK juga terdampak.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran warga, terutama apabila hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi. Tanggul yang masih mengalami kerusakan dinilai berpotensi meningkatkan risiko luapan air ke permukiman.
Warga berharap pemerintah tidak hanya melakukan penanganan ketika banjir sudah terjadi, tetapi juga melakukan perbaikan secara permanen terhadap titik-titik tanggul yang rawan jebol.
Masyarakat juga meminta dilakukan pemetaan dan pengawasan terhadap seluruh titik tanggul yang mengalami kerusakan, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat sebelum memasuki periode hujan berikutnya.
Editor: Reza Fahlevi






