Dberita.ID | Lamongan – Harga cabai di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kembali mengalami lonjakan signifikan dalam dua pekan terakhir. Kenaikan harga yang cukup tajam membuat masyarakat dan pedagang mengeluh karena semakin membebani kebutuhan rumah tangga serta menekan omzet usaha kecil yang bergantung pada komoditas tersebut.
Berdasarkan pantauan jurnalis Dberita.id di Pasar Sidoharjo, Pasar Sentral Lamongan, dan sejumlah pasar kecamatan pada Selasa (16/6/2026), kenaikan paling mencolok terjadi pada cabai rawit. Harga cabai rawit saat ini mencapai Rp75.000 hingga Rp80.000 per kilogram, naik sekitar 30 persen dibandingkan awal bulan yang masih berada di kisaran Rp60.000 hingga Rp65.000 per kilogram.
Sementara itu, cabai merah keriting dijual dengan harga Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram. Adapun cabai merah besar justru mengalami penurunan harga menjadi Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram dari sebelumnya sekitar Rp65.000 per kilogram.
Faktor Penyebab Kenaikan Harga
Pedagang dan instansi terkait menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan harga cabai melonjak, di antaranya:
– Cuaca yang tidak menentu, dengan curah hujan tinggi yang membuat tanaman cabai rentan terserang penyakit jamur dan patek sehingga hasil panen menurun bahkan menyebabkan gagal panen.
– Belum memasuki masa panen raya, sehingga pasokan cabai lokal masih terbatas dan harus didatangkan dari daerah lain seperti Probolinggo, Jember, Banyuwangi, serta beberapa wilayah di luar Jawa Timur.
– Meningkatnya biaya distribusi, akibat kenaikan biaya transportasi dan jarak tempuh yang cukup jauh, sehingga ongkos pengiriman naik sekitar 15 hingga 20 persen.
-;Permintaan pasar yang tetap tinggi, baik dari rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner, meskipun harga mengalami kenaikan.
“Dulu beli satu kilogram cukup untuk kebutuhan seminggu. Sekarang beli seperempat kilogram saja sudah terasa berat. Akhirnya penggunaan cabai harus dihemat,” ujar Siti, seorang ibu rumah tangga warga Kecamatan Mantup.
Kenaikan harga juga berdampak langsung terhadap pedagang. Sutri, penjual bumbu dapur di Pasar Sidoharjo, mengaku omzet usahanya turun hingga 40 persen.
“Pembeli sekarang lebih banyak membeli dalam jumlah sedikit. Sementara kami harus mengambil stok dari agen dengan harga yang lebih mahal, sehingga keuntungan menjadi sangat tipis,” katanya.
Stok Masih Aman
Meski harga mengalami kenaikan, Polres Lamongan melalui Unit II Ekonomi Satintelkam bersama Dinas Ketahanan Pangan memastikan ketersediaan stok cabai masih dalam kondisi aman meskipun pasokannya terbatas.
“Kami terus memantau perkembangan harga dan pasokan di lapangan. Koordinasi dengan daerah pemasok juga terus dilakukan agar distribusi berjalan lancar.
Kami memperkirakan harga akan mulai turun secara bertahap dalam dua hingga tiga minggu ke depan saat memasuki masa panen raya,” ujar Aipda Nanang Sumantri.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret, seperti menggelar operasi pasar dan memperlancar distribusi komoditas pangan, agar harga cabai kembali stabil dan tidak semakin membebani perekonomian keluarga menjelang pertengahan tahun 2026.
Penulis: Iswanto
Editor: Reza Fahlevi















