Dberita.ID | Stabat — Sekitar seribuan warga dari wilayah Teluk Aru, Kabupaten Langkat, Sumut, menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Bupati Langkat, di Stabat, Senin (20/4/2026).
Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap penyaluran bantuan dampak banjir yang dinilai tidak merata.
Massa yang berasal dari Kecamatan Besitang-Brandan sekitarnya mempertanyakan bantuan dari pemerintah, terkait dampak banjir yang terjadi pada November 2025 lalu.
Mereka menilai penyaluran bantuan yang baru dilakukan sekitar Maret 2026 belum menjangkau seluruh warga terdampak.
Dalam orasinya, perwakilan massa menyampaikan bahwa masih banyak korban banjir yang tidak masuk dalam daftar penerima bantuan, meskipun mengalami kerugian cukup besar.
“Kami juga korban banjir. Rumah kami terendam, perabotan rusak bahkan hilang, tapi tidak mendapat bantuan. Kami minta pemerintah berlaku adil,” ujar salah satu orator.
Selain itu, massa mendesak Pemerintah Kabupaten Langkat untuk melakukan pendataan ulang terhadap warga terdampak, agar bantuan dapat disalurkan secara merata dan tepat sasaran.
Dalam aksi tersebut, massa membawa berbagai spanduk dan poster berisi tuntutan keadilan serta transparansi dalam penyaluran bantuan. Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan kepolisian.
Beberapa jam setelah aksi berlangsung, massa sempat ditemui Sekretaris Daerah (Sekda) Langkat, H. Amril, S.Sos., M.AP. Perwakilan demonstran kemudian diterima untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.
Sekitar setengah jam kemudian, perwakilan massa keluar dari pertemuan dan menyampaikan kepada peserta aksi bahwa Bupati Langkat, H. Syah Afandin, masih dalam perjalanan dari Jakarta menuju Langkat.
Massa diminta menunggu sekitar dua jam agar bupati dapat hadir dan menemui langsung para demonstran. Mendengar hal tersebut, massa kemudian bergeser dari pintu masuk Kantor Bupati Langkat menuju Lapangan Alun-alun Tengku Amir Hamzah, Stabat, untuk menunggu kedatangan bupati.
Yati salah warga pendemo mengatakan, seharunya pemerintah memberi dana dampak banjir kepada kami. Setidaknya itu uang pengganti perabotan se-isi rumah kami yang hancur/rusak dan hilang akibat bencana alam banjir.
Hingga berita ini ditayangkan, massa masih bertahan di sekitar kawasan perkantoran Bupati Langkat. Aparat kepolisian terus melakukan pengamanan di lokasi, termasuk menyiagakan satu unit mobil water cannon dan kendaraan patroli guna mengantisipasi kemungkinan gangguan keamanan.
Editor: Reza Fahlevi














