Dberita.ID, Depok — Dalam upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045, Presiden RI Prabowo Subianto menetapkan delapan misi pembangunan nasional atau Asta Cita, yang salah satunya menekankan pada penguatan reformasi politik, hukum, dan birokrasi, termasuk pemberantasan korupsi dan narkoba. Selain itu, Asta Cita juga berfokus pada pembangunan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, kesehatan, olahraga, serta kesetaraan gender dan peran aktif perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
Semangat inilah yang disampaikan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Hukum, Gusti Ayu Putu Suwardani, saat membacakan sambutan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham), Supratman Andi Agtas, pada acara Wisuda Program Sarjana Ilmu Hukum dan Program Diploma Tiga Administrasi Peradilan STIH Litigasi Tahun Akademik 2023/2024 dan 2024/2025 di Kampus BPSDM Hukum, Depok, Sabtu (18/10/2025).
Dalam sambutannya, Gusti Ayu menyampaikan bahwa para wisudawan STIH Litigasi merupakan agen perubahan bangsa yang diharapkan dapat terus berkontribusi di berbagai bidang hukum. Ia juga mengimbau pengurus Yayasan Pengayoman dan sivitas akademika STIH Litigasi untuk mempererat kerja sama dengan berbagai kementerian dan lembaga, seperti Kemenko Polhukam, Kemenkumham, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia hukum Indonesia.
“Penguatan kerja sama diperlukan untuk meningkatkan kualitas SDM melalui program learning organization yang berkelanjutan,” ujar Gusti Ayu.
Lebih lanjut, Ka BPSDM Hukum menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab moral dan sosial yang lebih besar.
“Saudara adalah bagian dari generasi hukum Indonesia yang harus menjadi agen perubahan, bukan sekadar penghafal pasal. Ilmu hukum yang Saudara pelajari harus menjadi alat untuk menegakkan keadilan, memperjuangkan kepastian hukum, memberikan kemanfaatan bagi banyak orang, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” tuturnya.
Ia berharap para lulusan STIH Litigasi terus berkiprah di berbagai bidang, baik sebagai advokat, jaksa, hakim, akademisi, maupun aparatur sipil negara, dengan menjunjung tinggi nilai integritas, profesionalitas, dan keadilan sosial.
“Jangan pernah berhenti belajar, karena hukum akan terus berkembang seiring dinamika masyarakat dan teknologi. Jadilah insan hukum yang adaptif terhadap perubahan, tetapi kokoh dalam prinsip dan etika,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gusti Ayu juga mengundang para dosen STIH Litigasi untuk mengikuti Training of Facilitator (ToF) Implementasi KUHP Baru yang dilaksanakan oleh BPSDM Hukum, sebagai bagian dari Program Prioritas Nasional di bidang pendidikan hukum.
Menutup sambutannya, Ka BPSDM Hukum menekankan bahwa reformasi hukum nasional tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada kontribusi seluruh elemen bangsa, termasuk para sarjana hukum muda.
“Mari bersama-sama mewujudkan ekosistem hukum yang bersih, berwibawa, dan humanis, demi cita-cita besar Asta Cita Presiden: Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045,” tandasnya.
Dalam kegiatan tersebut, STIH Litigasi mengukuhkan 189 lulusan. Berdasarkan data kampus, jumlah mahasiswa aktif kini mencapai 428 orang, angka tertinggi sejak perguruan tinggi ini berdiri — menjadi sinyal positif bagi masa depan lembaga dan kontribusinya terhadap pembangunan hukum nasional.
Sebanyak 12 lulusan terbaik dari kedua angkatan memperoleh penghargaan atas prestasi akademik mereka. Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat dan hangat, diiringi lagu-lagu daerah dan persembahan dari para wisudawan. Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah antara wisudawan, dosen, serta tamu undangan, sebagai simbol awal perjalanan baru para sarjana hukum muda Indonesia.
Editor: Reza Fahlevi















